Mengenang Ramadan Semasa Kecil

Mengenang Ramadan Semasa Kecil
Di Posting Oleh : https://ceritamasyarakaat.blogspot.com/
Kategori : kenangan ramadan masa kecil nostalgia ramadab ramadan

https://drive.google.com/uc?export=view&id=168Z201BKDIGDQBL5TxlpjzO97LLxfWyE

“Cetek..cetek.. blar,” terdengar suara

Kompor dinyalakan saat dini hari. Aku yang masih setengah sadar melihat jam dinding dikamar.

“Baru jam 3 ya, ibu kok dah bangun saja ya?”

gumamku sambil melihat jam dinding di kamar. Mataku masih sangat melekat susah sekali untuk membuka mata dengan benar. Dengan tangan yang masih mengucek mata aku bangun menuju dapur.

“Ibu, kok dah bangun? Kan masih jam 3?” tanyaku.

“Ya kan ibu harus menyiapkan makanan buat sahur,” jawab ibuku singkat. 

“Oh iya bu. Bu aku mau bantuin dong,” kataku.

Ibu tersenyum lalu menjawab, “bantuin nyiapin peralatan makan saja ya, masakannya sudah mau selesai kok”.

“Siapp!” jawabku penuh semangat. Lalu bergegas mengambil piring dan menumpuknya. Tak lupa mengambil sendoknya. 


Menu sahurnya sederhana saja, hanya sayur bening bayam dan telur dadar. Lumayanlah yang penting buat sahur ada, supaya kuat berpuasa seharian.

“Ehmm coba aja menunya mie instan indomie goreng atau sarden semangatlah aku.” kata adik bungsuku yang sudah bangun dan duduk dikursi meja makan


Gen milenial kurasa sepakat ya, menu spesial sahur dijamannya adalah sarden dan mie instan goreng. Apalagi indomie goreng sampai sekarang kalau dimasak aromanya benar-benar menggoda. Jadi pengen makan mie. #eh. Beda lagi kalau menu mewah sahur, versi aku jatuh pada satai ayam. Kalau menu sahurnya ini auto langsung semangat. Hahahhaha. Jangan lupa, wajib minum susu kental manis coklat yang hangat. Supaya kuat puasanya, jangan ada drama langsung minum kalau mau aman dari omelan bapak dan ibu. Hehehehe.


Selesai sahur seperti biasa, larangan untuk tidak tidur lagi sangat kencang. Padahal kepala dan mata rasanya berat untuk terjaga. Jadilah tetap ketiduran disegala

posisi yang menggemaskan. Paling tidak enak ditinggal salat subuh sama keluarga. Hehehe.


Lanjut berangkat sekolah dalam keadaan puasa. Kalau bertemu teman sebaya di sekolah jadi happy. Lupa sama lapar dan haus. Meski nanti pulangnya baru deh terasa lelahnya bermain. Hehehe


Siang hari sepulang sekolah. Saat menonton tv, mulailah godaan puasa gen milenial dimulai. Melihat iklan sirup yang dituang, langsung terbayang kesegarannya ditenggorokan. Hahahha. Nyatanya anak-anakku gen alpha juga punya perasaan yang sama.


Sore hari pun tidak kalah seru, menunggu azan maghrib didepan tv. Takjil udah siap, es cincau sudah digelas. Menunggu azan sambil nonton sinetron spesial ramadan. Tamara blezensky, krisdayanti atau anjasmara lah pemainnya. Jangan sampai ketinggalan satu episodepun. Hehehehe. Herannya waktu aku kecil, mendekati waktu berbuka rasanya jam tidak berjalan. Lambat sekali pergerakannya. 

Sekarang kalau anak-anakku bilang hal yang sama. “Iya ya, jamnya jadi lama. Kayak nggak gerak-gerak nggak sih? Ibu dulu juga ngerasa begitu waktu kecil,” sambil tertawa kecil.


Sama halnya dengan salat tarawih. Setiap bacaan imam, rakaat per rakaat terasa sangat lama. Kaki pegal, inginnya batal saja salatnya. Tapi ingat nanti buku kegiatan ramadan ku nggak penuh tandatangan imam. Hehehhe.

Jadilah tetap bertahan sampai selesai. Meski diawal rakaat lama duduk dulu sampai bacaan suratnya hampir selesai. Alhamdulillah sampai akhir ramadan biasanya tetap puasa penuh dan selalu ikut tarawih. Ditambah tadarus Al-qur’an yang tidak pernah khatam sekalipun 30 jus. Diakhir happy sekali dapet uang tiga puluh ribu rupiah karena sudah berpuasa.


Masya Allah ternyata indah sekali ramadan di masa kecil. Tidak perlu mikir menu berbuka dan sahur, tidak perlu masak, apalagi mikir harga sembako yang belum ramadan saja udah naik ugal-ugalan. Hiks hiks.


Bersyukur juga dengan orangtua yang sudah mengajarkan tentang ibadah di bulan ramadan. Insya allah yang baik sudah diterapkan ke anak-anak, dan yang kurang sudah diperbaiki. 


“Zaman boleh berubah tapi ajaran islam sepanjang jaman”.


Kalau teman-teman bagaimana?

Ada yang samakah kenangan masa kecil ramadannya denganku?

Tulis dikolom komentar ya :)


“Challenge Menulis IIDN”


No comments for "Mengenang Ramadan Semasa Kecil "

iklan 1