“Apa Sebenarnya Tantangan Terberat Saat Puasa?”

“Apa Sebenarnya Tantangan Terberat Saat Puasa?”
Di Posting Oleh : https://ceritamasyarakaat.blogspot.com/
Kategori : hal berat saat puasa kesulitan puasa ramadan tantangan tantangan puasa ujian

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1LAOLaYXd3ASH77sBqWqzVFtgTtHnEREx


Basmalah, hari keenam ramadan ya teman-teman. Alhamdulillah allah kasih kesehatan dan kesempatan untuk terus menulis. Tema kali ini cukup membingungkan untukku. “Apa sih tantangan terberat saat puasa?”

Mungkin, karena semua yang berat sudah terasa ringan olehku.


Sekitar empat sampai lima tahun kebelakang terasa sangat berat menjalani puasa. Saat dimana aku memiliki bayi, batita dan anak-anak. Subhanallah bisa puasa selama ramadan saja rasanya benar-benar prestasi. Melewati ramadan dengan diri yang tetap sehat dan anak-anak sehat. Masya Allah nikmat sekali.


Why?

Karena menjalani puasa sambil menyusui bayi dan kakak-kakaknya yang sedang belajar puasa itu luar biasa. Mulai dari menyiapkan menu sahur dan berbuka. Luar biasa sambil gendong bayi, terkadang sambil menyusui didepan kompor. Apa boleh buat kalau diletakkan ditempat tidur anaknya langsung bangun.


Terkadang si kakak pun masih perlu disuapin agar makannya segera selesai. Meski masih kecil tetap diajarkan tentang batas waktu makan sahur. Makin siang terkadang ada saja pertengkaran saudara yang makin menghabiskan stock kesabaran. Ada lagi yang saat adiknya berbuka di siang hari, si kakak jadi ingin ikutan buka pusa. Padahal si kakak dengan usia yang lebih tua sudah mampu puasa sampai maghrib. Mulailah rengekan, “bu aku lapar dan haus. Adik sih bikin ngiler aja.”


Rasa berat makin menjadi menjelang berbuka. Disibukkan dengan masak yang harus serba cepat. Sambil terus melirik jam, sebentar lagi waktu berbuka tapi masih ada beberapa masakan yang belum selesai. Inginnya membuat menu yang menarik untuk anak-anak sebagai reward sudah puasa seharian. Realitanya, lebih sering beli saja takjil karena tidak sempat.


Setelah berbuka masih harus diburu-buru lagi menyiapkan bayi dan perlengkapannya. Membantu batita dan si sulung bersiap-siap ke masjid melaksanakan salat isya dan tarawih. Syukurnya, suami mau membantu merawat anak-anak jika sudah pulang kerja atau libur. Lumayan rasanya lebih ringan dibanding saat suami tak ada dirumah.


Seharian benar-benar melelahkan. Tak heran jika tadarus sering lewat, target khatam tidak tercapai. Kalaupun tercapai diakhir-akhir pasti ngos-ngosan dan terburu-buru membacanya.

Subhanallah rasanya nano-nano, tapi semua yang terasa berat itulah pahala untuk ibu.


Sekarang, alhamdulillah anak-anak semakin besar. Semua terasa lebih ringan, meski ujian tetap selalu ada. Terlebih lagi hari ini sudah mulai sekolah. Profesi jadi emak gojek pun dimulai kembali. Ahh, ternyata pikiran itu salah! Kupikir “jika anak-anak sudah besar insya allah makin enak dan mandiri.” Ternyata tidak semudah itu marimar. Setiap saat ada masanya, sekarang masa mereka penuh kegiatan. Ibu pun dituntut untuk terus mendampingi, mengantarkan dan mengajari mereka disetiap kegiatan.


Hari ini saja sudah bolak balik lebih dari 3 kali. Pagi jam 08.00 WIB antar anak yang TK lalu mampir ke penjual sayuran. Sampai rumah istirahat sebentar, jam 09.00 WIB antar lagi anak yang SD. Pulang, duduk sebentar jam 10.00 WIB harus jemput lagi yang TK. Lalu jam 10.40 WIB terakhir jemput si sulung.


Tentu tanggung sekali jika harus tidur. Hahahaha. Takutnya malah kebablasan anak-anak tidak dijemput. Jadi apakah hal terberat saat puasa bagiku?


Hal terberat ya diriku sendiri yang merasa semua sulit. Merasa diri sendiri paling berat, padahal banyak kok yang mengalami bahkan hampir semua ibu-ibu mengalami.

Aku sadar mau sampai kapanpun kesibukan, ujian dan rasa berat selalu ada. Tinggal kita saja sebagai manusia yang Allah beri akal untuk pintar-pintarnya mengatur waktu. Memilih mana prioritas dan yang bisa dikerjakan nanti. Husnuzan kepada Allah dan selalu bersyukur setiap harinya. Berterimakasih pada diri sendiri untuk pencapaian dan yang bisa dikerjakan setiap harinya.


Kalau lelah ya istirahat sejenak. Setelah istirahat lanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda. Tidak harus selesai hari ini juga, semua bisa dikerjakan sedikit demi sedikit yang penting rutin. Evaluasi apa yang masih kurang dan perlu diperbaiki lagi.


Masya Allah, sekarang ramadan jadi hal yang ditunggu. Meski lelah tak ada yang terasa berat. Semua terasa ringan, jika diingat besarnya pahala. Nikmat tertinggi masih bertemu ramadan dan bisa beribadah puasa di bulan ramadan.


Semoga Allah mudahkan selalu urusanku. Allah ringankan hati dan langkahku dalam urusan ibadah dibulan suci ini. Aamiin ya rabbal  ‘alamiin.


Kalau teman-teman “Apa sih tantangan terberatnya saat puasa?” Yuk saling sharing🩷


“Challenge Menulis IIDN”

No comments for " “Apa Sebenarnya Tantangan Terberat Saat Puasa?”"

iklan 1